KANCUT !!!
Hal paling KANCUT buat gue di dunia ini adalah
Saat WC di tempat kerja mampet dan pagi-pagi buta kaya gini gue udah nahan berak sampe pantat ber-asep, KANCUT !!!. Dunia memang gak adil, disaat orang lain dengan bebasnya membuang tokay ke liang jamban kapan pun mereka suka, gue malah menahan pantat dan perut gue dengan segenap jiwa dan raga yang mulai mengggelinjang minta berak.
Pantat gue kembang-kuncup, kaki gue keram, adek gue kejang—kejang (gak nyambung juga, ya?), KANCUT !!!
Entah kutukan apa yang sedang menimpa gue dan temen-temen gue ditempat kerja. Disaat WC mampet begini kita semua bawaanya malah pengen berak melulu. ngeliat muka temen sendiri langsung pengen berak, di omelin bos juga langsung pengen berak. Apakah ini kutukan dari Dewa Berak? Dimana dalam kitab Dewa Berak ada ayat yang menerangkan seperti ini:
“Wahai orang-orang yang pantatnya murtad, diwajibkan atas kamu agar selalu berak dalam situasi apa pun, kapan pun dan dimana pun”
I CAN’T IMAGINE IF IT’S REALLY HAPPENING !!!!!
Gak lucu aja kalo dewa berak beneran ada, disaat dia murka karena gak ada seorang pun yang mau berak maka seluruh manusia akan dikutuk menjadi pantat.
Banyak temen gue yang bilang kalo gue itu terserang virus ‘Kebeletus Berakus’. Gak Cuma di tempat kerja aja gue kebelet berak, hampir di semua tempat yang pernah gue sambangi pasti pernah gue berakin. Nah, ketidak-berdayaan gue dalam menahan berak ini di diagnosis temen-temen gue dengan nada penuh ke-sotoy-an. Kebanyakan dari mereka (dengan gaya seperti dokter spesialis eek) bilang, ‘tau gak? Lo itu terjangkin virus Kebeletus Berakus’.
‘Virus apaan tuh?’ gue bingung, ‘itu virus kebelet berak’ kata temen gue, sotoy.
Memang harus gue akui, gue teramat-sangat-sering-berak tanpa kenal waktu dan tempat. Kapan dan kemana pun gue jalan bareng temen, keluarga, pacar atau siapa pun hampir bisa dipastikan kalo gue akan berak. Ini gak bisa dibiarkan! Seandainya gue jalan bareng pak Presiden dan gue kebelet boker, gimana? ‘kenapa lama sekali ke kamar kecilnya gie? Pak Presiden nanya, ‘anu pak, kebelet berak!’ gue jawab sekenanya sambil nunjuk-nunjuk pantat, dengan kewibawaanya pak Presiden bilang ‘Prihatin’.
Menahan berak seperti ini juga bisa mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan diluar nalar.
Malam itu, ketika gue dan abang gue lagi didaerah Puncak – Bogor, gue kebelet berak (lagi) gue lagi dimotor di bonceng sama abang gue. Kebetulan kita baru aja abis liburan dari Sukabumi dan perut pun kembali menggelinjang. MAMPUS! Pasti gara-gara pepes teri yang gue makan di warteg pas di Sukabumi tadi.
Gue diem, mencoba untuk meng-handle pantat ini, gue berfikir ‘DIMANA?!! DIMANA GUE HARUS BUANG HAJAT?’ sementara gue lagi kejebak di tengah belantara kebon teh kaya gini.
'Bang' gue manggil abang gue yang lagi asyik ngendarain motor
'apaan?' dia noleh kebelakang
'kampret, gue kebelet berak nih!'
'yaudah, nanti kalo ada mesjid kita berenti dulu'
kita ngelanjutin perjalanan. Sepanjang jalan minim banget cahaya paling cuma lampu-lampu kendaraan doang, ya namanya juga di hutan.
Gak lama, 'bang!! minggir bang ada mesjid tuh!' gue excited kaya orang abis dapet Raskin, 'bukan itu mah villa bego!' abang gue berkata dengan sangat yakin, 'emg iya ya?' gue agak ragu dengan asumsi abang gue barusan. Akhirya kita terusin perjalanan, gue udah gak kuat lagi buat nahan pantat ini, apakah masih ada peradaban di tengah gunung seperti ini? gue gak kuat!!!!.
setelah jalan lumayan jauh, gue yang dari tadi diem gak berani ngomong apa-apa, takut aja kalo ngomong, gue akan bertindak gila karena kelamaan nahan berak. seperti, ngeberakin muka abang gue. dengan pantat yang masih keremian gue memberikan sedikit saran buat abang gue 'bang, gimana kalo kita tanya orang aja?, di depan ada tukang villa tuh kayaknya'.
Kita akhirnya menepi.
Gue membuka kaca helm dan segera bertanya. Belum sempet gue nanya apa-apa tukang villa ngomong duluan
'villa kang?' dengan logat kesundaan
'mesjid kang, dimana?', 'oh nuju sholat lain'?' 'LAIN, HAYANG NGISING!!! sambil nunjuk-nujuk pantat' 'si akang mah kumaha, eta tah geus kaliwat' ' oh yang tadi di tengah-tengah kebon teh itu bukan kang?' 'tah eta' tukang villa meyakinkan gue kalo mesjidnya tuh yang tadi gue liat. Gue noleh ke abang gue ' gue gak tau gie!' kata abang gue kalem ' ah bacot lu!' udah jalan lagi!!! memerintah abang gue untuk meneruskan perjalanan.
Bingung, apa yang melanda pikiran abang gue, mungkin dia kena Disfungsi otak sehingga ga bisa bedain mana mesjid mana villa? apa dia sedang dihantui ketakutan, takut kalo gue bener-bener bakalan berak diatas Helm-nya dia?. KANCUT
Gue diem.
Abang gue diem.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, kita kembali melanjutkan perjalanan sampe akhirnya kita menemukan sebuah masjid.
Gue seperti melihat cahaya dengan aluanan musik kemenangan. Tanpa banyak mikir gue langsung cari toilet dimesjid itu dan menuntaskan tugas suci ini.
"braat - breet - broot" hempasan eek gue memecah keheningan.
Akhirnya tugas mulia itu tertuntaskan.
Tamat.
Minggu, 12 Februari 2012
Selasa, 03 Januari 2012
Ketika kembang api itu meredup
Sepupu gue meninggal beberapa hari yang lalu.
Temen main gue dari kecil.
Yang kemudian gak pernah lagi gue temuin semenjak lulus SMP.
Kabar duka itu menampar gue di pagi buta. Kira-kira sekitar jam 01.00 dini hari.
Tepat dua hari pasca perayaan tahun baru 2012. Adek gue yang pertama dikabarain soal kepergian sepupu gue ini lewat telfon dari bokap dan seketika itu pula dia membangunkan gue untuk memberi tahukan kepergian sepupu gue itu.
disaat mata gue belom lagi bener-bener terbuka, disaat itu juga gue terdiam agak lama.
it's make me think, ketika salah satu orang terdekat lo meninggal, disaat itu juga kita disadarkan pada suatu hal bahwa 'The Death is close to us'.
Sebelumnya gue selalu menganggap kematian adalah hal yang jauh dari gue, jauh banget. Gue selalu berpikr "Well men, gue masih 19 tahun, gak bakal
kenapa-kenapa!". Sekarang, kepergian sepupu gue ini jadi semacam wake-up alarm buat gue, bahwa no!, The death isn't far away, you could be next. Umur mana ada yang tahu.
So, keesokan harinya,
gue dateng ke pemakamanya.
Dan disaat gue di pemakamnya, banyak suadara - saudara gue yang lain dateng, temen - temen almarhum juga pada dateng, Diantara kumpulan orang - orang itu, ada yang gak terlalu kenal almarhum, ada yang udah kenal banget, ada temen - temen satu sekolahnya, temen - temen satu kelasnya, bermacam - macam orang datang pemakamnya. Tapi mereka punya satu alasan yang sama untuk datang kesana: Yes! They want to see him for the last time. Mereka semua sayang sama sepupu gue itu, mereka juga menyayangkan kenapa almarhum harus pergi secepat ini.
as i sat outside the funeral home, dibangku yang memang disediakan untuk para pelayat, ada yang bilang "sayang banget ya padahal orangnya baik". Gue sendiri bilang "Dia memang orang baik". "Yeah right! actually, we shouldn't talk about the death pas lagi ngelayat, but i can't help it. Dia emang baik dan dia juga mengajarkan gue banyak hal. and then what happen next? i saw him di pembaringanya yang terakhir, smiling peacefully, seperti tertidur pulas. So, this really his death? Sepupu gue?.
And you know what that feel? ketika duduk diantara pelayat - pelayat itu? I can't help to wonder: "Gimana yak kalo gue yang meninggal?, Gimana pemakaman gue nanti?".
Kadang gue suka berkhayal tentang bagaimana pemakaman gue nanti?, apa temen gue bakal banyak yang dateng? apa ada yang dateng?, Apa ada yang bakal ngomongin gue?, Apa ada kenangan yang mereka inget tentang gue?, Apa ada yang rela kepanasan? Kehujanan?, Cuma untuk melihat gue buat yang terakhir kali. apa iya, ada?
Gue juga suka merasa bahwa kematian itu sesuatu yang sensitif untuk sekedar kita bicarakan.
Sesuatu yang sebenernya 'ada' tapi selalu kita 'ignore' keberadaanya.
Katanya Haruki Murakami “Death is not the opposite of life, but a part of it.”
Gue hidup di dunia ini dengan seolah - olah men-tidak-exist-kan kematian.
Ketika gue makan, gue bercanda, gue hang-out, gue jatuh cinta. I forget about death.
I'm too busy with my own interest. But is it there. And when it hits, it hits so hard. Satu kali, gue udah kehilangan kakek gue. Dua kali, Gue kehilangan om gue. Dan
gue kehilangan sepupu gue, ini tiga kali.
When i go back home setelah pemakaman.
Gue bawa motor sendirian dan entah kenapa pada saat itu gue jadi ngerasa jiper!, gue jadi ngerasa kecil banget. I have to think that: badan ini cuma dipinjamkan, dunia ini cuma rumah singgah paruh waktu, setiap satu hela napas adalah satu hela napas lagi menuju kematian.
Kita harus ngebuat lebih banyak hal baik, lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, menaruh baik - buruk pada tempatnya, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuma sekali dan sebentar pula, akan sangat konyol kalo digunakan untuk sekedar di sia-sia-in.
We have to enjoy it, yes it's Life.
For sure, suatu hari nanti gue pasti mati. Dan gue pengen membuat sesuatu yang gak bakal mati.
"Gue pengen hidup dari apa yang gue sukai, dan gue ingin itu untuk terus hidup".
Sepupu gue itu,
enggak akan pernah gue lupakan.
Dan gue juga gak ingin dilupakan.
Gue gak ingin jadi semacam Nama yang hilang gitu aja.
Sebuah nama yang diukir diatas nisan, yang pada awalnya sering dikunjungi.
Hingga pada akhirnya, cuma pas mau bulan puasa dan abis lebaran aja.
Nama pada sebuah nisan yang retak, usang, lumutan, bau, ditakutin orang lewat.
Dan mumpung masih hidup, gue gak pengen jadi seonggok badan yang cuma memadati bumi,
menyesaki kota ini,
sama-sama makan, minum, berak, bicara, dan seterusnya, buat apa?
Gue pengen buat hidup ini se-special mungkin,
or i just wanna die special.
Selamat jalan sepupuku, temanku, sahabatku,
Semoga kamu temui kebahagiaan tanpa batas,
disana.
Temen main gue dari kecil.
Yang kemudian gak pernah lagi gue temuin semenjak lulus SMP.
Kabar duka itu menampar gue di pagi buta. Kira-kira sekitar jam 01.00 dini hari.
Tepat dua hari pasca perayaan tahun baru 2012. Adek gue yang pertama dikabarain soal kepergian sepupu gue ini lewat telfon dari bokap dan seketika itu pula dia membangunkan gue untuk memberi tahukan kepergian sepupu gue itu.
disaat mata gue belom lagi bener-bener terbuka, disaat itu juga gue terdiam agak lama.
it's make me think, ketika salah satu orang terdekat lo meninggal, disaat itu juga kita disadarkan pada suatu hal bahwa 'The Death is close to us'.
Sebelumnya gue selalu menganggap kematian adalah hal yang jauh dari gue, jauh banget. Gue selalu berpikr "Well men, gue masih 19 tahun, gak bakal
kenapa-kenapa!". Sekarang, kepergian sepupu gue ini jadi semacam wake-up alarm buat gue, bahwa no!, The death isn't far away, you could be next. Umur mana ada yang tahu.
So, keesokan harinya,
gue dateng ke pemakamanya.
Dan disaat gue di pemakamnya, banyak suadara - saudara gue yang lain dateng, temen - temen almarhum juga pada dateng, Diantara kumpulan orang - orang itu, ada yang gak terlalu kenal almarhum, ada yang udah kenal banget, ada temen - temen satu sekolahnya, temen - temen satu kelasnya, bermacam - macam orang datang pemakamnya. Tapi mereka punya satu alasan yang sama untuk datang kesana: Yes! They want to see him for the last time. Mereka semua sayang sama sepupu gue itu, mereka juga menyayangkan kenapa almarhum harus pergi secepat ini.
as i sat outside the funeral home, dibangku yang memang disediakan untuk para pelayat, ada yang bilang "sayang banget ya padahal orangnya baik". Gue sendiri bilang "Dia memang orang baik". "Yeah right! actually, we shouldn't talk about the death pas lagi ngelayat, but i can't help it. Dia emang baik dan dia juga mengajarkan gue banyak hal. and then what happen next? i saw him di pembaringanya yang terakhir, smiling peacefully, seperti tertidur pulas. So, this really his death? Sepupu gue?.
And you know what that feel? ketika duduk diantara pelayat - pelayat itu? I can't help to wonder: "Gimana yak kalo gue yang meninggal?, Gimana pemakaman gue nanti?".
Kadang gue suka berkhayal tentang bagaimana pemakaman gue nanti?, apa temen gue bakal banyak yang dateng? apa ada yang dateng?, Apa ada yang bakal ngomongin gue?, Apa ada kenangan yang mereka inget tentang gue?, Apa ada yang rela kepanasan? Kehujanan?, Cuma untuk melihat gue buat yang terakhir kali. apa iya, ada?
Gue juga suka merasa bahwa kematian itu sesuatu yang sensitif untuk sekedar kita bicarakan.
Sesuatu yang sebenernya 'ada' tapi selalu kita 'ignore' keberadaanya.
Katanya Haruki Murakami “Death is not the opposite of life, but a part of it.”
Gue hidup di dunia ini dengan seolah - olah men-tidak-exist-kan kematian.
Ketika gue makan, gue bercanda, gue hang-out, gue jatuh cinta. I forget about death.
I'm too busy with my own interest. But is it there. And when it hits, it hits so hard. Satu kali, gue udah kehilangan kakek gue. Dua kali, Gue kehilangan om gue. Dan
gue kehilangan sepupu gue, ini tiga kali.
When i go back home setelah pemakaman.
Gue bawa motor sendirian dan entah kenapa pada saat itu gue jadi ngerasa jiper!, gue jadi ngerasa kecil banget. I have to think that: badan ini cuma dipinjamkan, dunia ini cuma rumah singgah paruh waktu, setiap satu hela napas adalah satu hela napas lagi menuju kematian.
Kita harus ngebuat lebih banyak hal baik, lebih banyak karya, lebih banyak menikmati hidup, menaruh baik - buruk pada tempatnya, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuma sekali dan sebentar pula, akan sangat konyol kalo digunakan untuk sekedar di sia-sia-in.
We have to enjoy it, yes it's Life.
For sure, suatu hari nanti gue pasti mati. Dan gue pengen membuat sesuatu yang gak bakal mati.
"Gue pengen hidup dari apa yang gue sukai, dan gue ingin itu untuk terus hidup".
Sepupu gue itu,
enggak akan pernah gue lupakan.
Dan gue juga gak ingin dilupakan.
Gue gak ingin jadi semacam Nama yang hilang gitu aja.
Sebuah nama yang diukir diatas nisan, yang pada awalnya sering dikunjungi.
Hingga pada akhirnya, cuma pas mau bulan puasa dan abis lebaran aja.
Nama pada sebuah nisan yang retak, usang, lumutan, bau, ditakutin orang lewat.
Dan mumpung masih hidup, gue gak pengen jadi seonggok badan yang cuma memadati bumi,
menyesaki kota ini,
sama-sama makan, minum, berak, bicara, dan seterusnya, buat apa?
Gue pengen buat hidup ini se-special mungkin,
or i just wanna die special.
Selamat jalan sepupuku, temanku, sahabatku,
Semoga kamu temui kebahagiaan tanpa batas,
disana.
Selasa, 11 Oktober 2011
The Thing That I Always Wondering
Pada waktu ini, dimana jalanan udah mulai sepi, kebanyakan orang udah tidur, ayam juga pada tidur! (Ok, abaikan yang satu tadi). Gue suka berfikir tentang 'Hal apa sih yang bisa bikin orang seneng?'.
Rasanya gue pengen banget jadi bintang iklan sabun mandi. Tau kan? Yang tadinya gue keliatan begitu lusuh, gembel, tiba-tiba aja setelah pake produk sabun itu, gue berubah menajadi seonggok manusia ganteng berbadan wangi semerbak bunga kuburan.
And i think that, kayak nya sabun bisa jadi alternatif buat hidup gue keliatan lebih seneng. It Should Mean Something.
Waktu menjelang Akhir kelas tiga SMA dulu, kehidupan gue dan temen-temen gue bakal di tentukan oleh dua hal. Yak! Lulus Ujian Nasional dan tembus USM (Ujian Saringan Masuk) Universita Negeri.
Temen-temen gue kayak nya bakal keliatan seneng banget kalo sampe bisa keterima di HI - UGM, FIKOM - UNPAD ata Kedokteran - UI.
But the trouble is: MASUK PERGURUAN TINGGI ITU ENGGAK GAMPANG!!! Peluangnya, untuk orang yang IQ-nya terkubur di inti bumi kaya gue ini, kecil banget.
So, buat gue masuk Perguruan Tinggi Negeri itu bisa disimpulkan 'Setahun Penuh Ngesot Di Aspal'. Karena emang harus sampe ngesot-ngesotan untuk bisa masuk ke Universitas Negeri.
Mendekati Tes USM tersebut, nyokap gue jadi lebih Over Protective, nyuruh gue untuk lebih Intens belajar, gak boleh keluyuran malem-malem, pokoknya dijaga banget deh!. Dan semua temen gue mendadak jadi Freak! ada yang sibuk baca-baca buku, ikut les bimbel tambahan diluar sekolah, sementara gue cuma duduk-duduk ganteng aja di kantin. Bukanya gak mau berusaha, gue cuma ingin memasrahkan semuanya pada yang kuasa. Prinsip yang gue pegang ketika akan menentukan masa depan ini : ' masuk ya syukur, gak masuk ya woles aja'.
Gue bukan Typical orang yang selalu ingin memaksakan kehendak, memacu kemampuan melebihi impian. Dan dengan berbekal prinsip Woles tadi, gue akhirnya resmi jadi Mahasiswa Perguruan tinggi Swasta di Jakarta.
Dan kebetulan gue baru aja mulai kuliah perdana beberapa waktu yang lalu. Belum banyak yang gue lakukan di awal-awal kuliah ini. Paling kalo lagi ada kelas itu, gue lebih sering bereksperimen, kaya meneliti: 'Lebih asin mana? Upil dari Bolongan idung sebelah kiri atau kanan?'.
Atau ketika ada kelas ilmu statistik yang mesti menghapal rumus, menghitung angka mengunnakan kalkulator yang tombolnya lebih banyak dari kalkulator pada umumnya, ujung-ujungnya gue cuma membuat gambar ini pada screen kalkulator tersebut
( . ) ( . )
Waktu gue dan temen-temen gue di sambut oleh kelas Bahasa Inggris, kebetulan waktu itu gue pertama kalinya dapet kelas Bahasa inggris di tingkat kuliahan, semua temen gue udah mulai panik dalem ruangan di lantai tiga salah satu gedung dikampus gue. kita semua menebak kalo dikelas ini pasti akan ada sesi 'Introduce Your Self' nya, sama kaya baru-baru masuk SMA dulu. Dan yak! Bener aja begitu dosenya masuk kita disuruh memperkenalkan diri kita masing-masing sambil stand up in front the class.
Petir bersahutan, daun-daun pohon jati berguguran, MAMPUS GUE!!!
English Language gue masih berantakan, takut dan malu campur aduk jadi satu.
Temen-temen sekelas gue pasti jago-jago nih.
Dosen pun duduk, sambil melihat deretan nama Mahasiswa baru di kertas Absen.
'Alright Class !, introduce your self start from the front!'
Suara dosen memecah keheningan kelas.
Temen gue yang tau kalo sesi pengenalan diri ini dimulai dari barisan depan, medadak pindah semua kebarisan belakang
Gue yang agak sedikit telat berfikir tetep duduk ganteng di depan dosen.
satu-persatu temen gue berdiri memperkenalkan diri meraka masing-masing di depan kelas
'My Name Is Anton' kata temen gue kalem 'I Live di jakarta deket International Airport of Halim' sambung Anton belepetan. Anjis! Gue kira cuma gue doang yang bakal ngomong belepetan, ternyata masih ada mahasiswa mabok bahasa Inggris selain gue. Akhirnya gue kebagian memperkenalkan diri dan Yak! dengan sedikit compang-camping gue sukses memper (malu kan) kenalkan diri.
'Now, it's your turn ladies, introduce yourself!'
suara merdu dosen memecah keheningan kembali.
sekarang giliiran para cewek-cewek dikelas gue untuk memerkenalkan diri.
'Hai Guys! my name is Dini' kata Dini, temen gue, kalem.
'Hai' sambut temen-temen yang lain dengan penuh kegaduhan
'ok Dini, now, let me ask you about 'why you choose IISIP to continue your studies?'
tanya Dosen pada Dini.
Hening mendadak
Gue diem, Dini diem, semua temen gue diem, kecuali si anton yang gak habis pikir kenapa bisa sebegitu ngehenya dia saat sesi pengenalan diri tadi, kasian anton.
'Because . . . ' Dini menghentikan pembicaraanya
Dosen gue menyemangati dini , satu kelas menunggu Dini dengan penuh pengharapan seperti melihat seorang ibu yang sedang berjuang dalam proses melahirkan anaknya.
'Because i . . . i mau jadi Reporter' gubrak!!!! satu kelas cekikikan . . .
dosen gue yang gak bisa denger jelas omongan Dini menanyakan kembali, 'excuseme Dini, i can't hear what you've said, repeat it please!'
'Reporter mom' Dini berucap dengan penuh penekanan
'What Harry Potter?' dosen gue menyambung
'REPORTER !!!' Dini membenarkan asumsi ngaco si dosen
Jeglek!!! kelas kembali rame, semua temen gue ketawa lagi.
Suara, anton yang paling dominan kedengaran, dia ngerasa bahwa ada seonggok manusia yang kisah peng-introduce-an dirinya lebih ngehe dari kisah dia tadi, anton bener-bener ketawa puas.
Dan kelas bahasa Inggris pun berakhir dengan tawa temen-temen sekelas gue.
kita semua berhamburan keluar kelas.
Gue Bersiap untuk pulang, bergegas menuju statsiun kereta Lenteng Agung menjemput KRL tujuan Bogor, yang akan mengantar gue kembali ke peraduan gue yang sebenarnya, Yak! Rumah, tempat nyokap gue menunggu dengan harap-harap cemas kepulangan anaknya ini dari kampus. Tempat dimana saat gue pulang, nyokap selalu menjamu gue dengan teh manis hangat, Tempat dimana saat gue pulang, nyokap selalu menyambut gue dengan antusias 'Wah anak mamah udah kuliah nih yeee'.
Hujan pun turun beringas saat gue memacu langkah menuju Stasiun.
Hemmm gue selalu suka bau tanah kering bercampur aroma hujan yang membasahinya.
Ada Romantisme tersendiri yang hujan tunjukan, entah apa. Mungkin itu datang dari percampuran rasa cemas untuk segera berteduh di Veron stasiun, atau pengharapan agar dapat melihat pelangi seusai hujan turun.
Akhirnya gue tiba di stasiun, membeli secarik karcis KRL Ekonomi tujuan Bogor.
gue menyusuri veron stasiun kereta sembari melihat-lihat bangku kosong untuk sekedar gue duduki sambil menunggu kereta yang belum transit di stasiun ini.
Gue duduk.
Menyeka keringat yang bercapur air hujan di kening gue, merebahkan badan pada tiang-tiang penyangga veron stasiun yang mulai karatan.
Mendengarkan playlist lagu di handphone gue sambil nyanyi-nyanyi sumbang yang tersamarkan oleh bunyi rel kereta ditempa hujan.
Gue seneng saat gak bisa denger suara gue sendiri, saat di bungkam tanpa sengaja, saat itu pula, percikan hujan membawa gue kembali merenung, merenung sendiri dibalik kacamata gue yang berembun. Hujan membawa kembali renungan itu.
Renungan tentang 'Hal apa yang sih yang bisa bikin orang seneng?'
Seperti kata Haruki Murakami dalam bukunya Kafka On The Shore:
“It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.”
Dan yang gak gue sadari adalah, antusiasme nyokap yang begitu berlebih melihat anaknya menempa pendidikan di Universitas adalah Hal yang selama ini gue cari, The thing that i always wondering.
Sebegitu excited dan terharunya nyokap ngeliat anaknya pake almamater yang gak semua orang bisa pake.
Dan untuk sementara waktu, inilah kesenangan yang selama ini gue cari-cari.
Rasanya gue pengen banget jadi bintang iklan sabun mandi. Tau kan? Yang tadinya gue keliatan begitu lusuh, gembel, tiba-tiba aja setelah pake produk sabun itu, gue berubah menajadi seonggok manusia ganteng berbadan wangi semerbak bunga kuburan.
And i think that, kayak nya sabun bisa jadi alternatif buat hidup gue keliatan lebih seneng. It Should Mean Something.
Waktu menjelang Akhir kelas tiga SMA dulu, kehidupan gue dan temen-temen gue bakal di tentukan oleh dua hal. Yak! Lulus Ujian Nasional dan tembus USM (Ujian Saringan Masuk) Universita Negeri.
Temen-temen gue kayak nya bakal keliatan seneng banget kalo sampe bisa keterima di HI - UGM, FIKOM - UNPAD ata Kedokteran - UI.
But the trouble is: MASUK PERGURUAN TINGGI ITU ENGGAK GAMPANG!!! Peluangnya, untuk orang yang IQ-nya terkubur di inti bumi kaya gue ini, kecil banget.
So, buat gue masuk Perguruan Tinggi Negeri itu bisa disimpulkan 'Setahun Penuh Ngesot Di Aspal'. Karena emang harus sampe ngesot-ngesotan untuk bisa masuk ke Universitas Negeri.
Mendekati Tes USM tersebut, nyokap gue jadi lebih Over Protective, nyuruh gue untuk lebih Intens belajar, gak boleh keluyuran malem-malem, pokoknya dijaga banget deh!. Dan semua temen gue mendadak jadi Freak! ada yang sibuk baca-baca buku, ikut les bimbel tambahan diluar sekolah, sementara gue cuma duduk-duduk ganteng aja di kantin. Bukanya gak mau berusaha, gue cuma ingin memasrahkan semuanya pada yang kuasa. Prinsip yang gue pegang ketika akan menentukan masa depan ini : ' masuk ya syukur, gak masuk ya woles aja'.
Gue bukan Typical orang yang selalu ingin memaksakan kehendak, memacu kemampuan melebihi impian. Dan dengan berbekal prinsip Woles tadi, gue akhirnya resmi jadi Mahasiswa Perguruan tinggi Swasta di Jakarta.
Dan kebetulan gue baru aja mulai kuliah perdana beberapa waktu yang lalu. Belum banyak yang gue lakukan di awal-awal kuliah ini. Paling kalo lagi ada kelas itu, gue lebih sering bereksperimen, kaya meneliti: 'Lebih asin mana? Upil dari Bolongan idung sebelah kiri atau kanan?'.
Atau ketika ada kelas ilmu statistik yang mesti menghapal rumus, menghitung angka mengunnakan kalkulator yang tombolnya lebih banyak dari kalkulator pada umumnya, ujung-ujungnya gue cuma membuat gambar ini pada screen kalkulator tersebut
( . ) ( . )
Waktu gue dan temen-temen gue di sambut oleh kelas Bahasa Inggris, kebetulan waktu itu gue pertama kalinya dapet kelas Bahasa inggris di tingkat kuliahan, semua temen gue udah mulai panik dalem ruangan di lantai tiga salah satu gedung dikampus gue. kita semua menebak kalo dikelas ini pasti akan ada sesi 'Introduce Your Self' nya, sama kaya baru-baru masuk SMA dulu. Dan yak! Bener aja begitu dosenya masuk kita disuruh memperkenalkan diri kita masing-masing sambil stand up in front the class.
Petir bersahutan, daun-daun pohon jati berguguran, MAMPUS GUE!!!
English Language gue masih berantakan, takut dan malu campur aduk jadi satu.
Temen-temen sekelas gue pasti jago-jago nih.
Dosen pun duduk, sambil melihat deretan nama Mahasiswa baru di kertas Absen.
'Alright Class !, introduce your self start from the front!'
Suara dosen memecah keheningan kelas.
Temen gue yang tau kalo sesi pengenalan diri ini dimulai dari barisan depan, medadak pindah semua kebarisan belakang
Gue yang agak sedikit telat berfikir tetep duduk ganteng di depan dosen.
satu-persatu temen gue berdiri memperkenalkan diri meraka masing-masing di depan kelas
'My Name Is Anton' kata temen gue kalem 'I Live di jakarta deket International Airport of Halim' sambung Anton belepetan. Anjis! Gue kira cuma gue doang yang bakal ngomong belepetan, ternyata masih ada mahasiswa mabok bahasa Inggris selain gue. Akhirnya gue kebagian memperkenalkan diri dan Yak! dengan sedikit compang-camping gue sukses memper (malu kan) kenalkan diri.
'Now, it's your turn ladies, introduce yourself!'
suara merdu dosen memecah keheningan kembali.
sekarang giliiran para cewek-cewek dikelas gue untuk memerkenalkan diri.
'Hai Guys! my name is Dini' kata Dini, temen gue, kalem.
'Hai' sambut temen-temen yang lain dengan penuh kegaduhan
'ok Dini, now, let me ask you about 'why you choose IISIP to continue your studies?'
tanya Dosen pada Dini.
Hening mendadak
Gue diem, Dini diem, semua temen gue diem, kecuali si anton yang gak habis pikir kenapa bisa sebegitu ngehenya dia saat sesi pengenalan diri tadi, kasian anton.
'Because . . . ' Dini menghentikan pembicaraanya
Dosen gue menyemangati dini , satu kelas menunggu Dini dengan penuh pengharapan seperti melihat seorang ibu yang sedang berjuang dalam proses melahirkan anaknya.
'Because i . . . i mau jadi Reporter' gubrak!!!! satu kelas cekikikan . . .
dosen gue yang gak bisa denger jelas omongan Dini menanyakan kembali, 'excuseme Dini, i can't hear what you've said, repeat it please!'
'Reporter mom' Dini berucap dengan penuh penekanan
'What Harry Potter?' dosen gue menyambung
'REPORTER !!!' Dini membenarkan asumsi ngaco si dosen
Jeglek!!! kelas kembali rame, semua temen gue ketawa lagi.
Suara, anton yang paling dominan kedengaran, dia ngerasa bahwa ada seonggok manusia yang kisah peng-introduce-an dirinya lebih ngehe dari kisah dia tadi, anton bener-bener ketawa puas.
Dan kelas bahasa Inggris pun berakhir dengan tawa temen-temen sekelas gue.
kita semua berhamburan keluar kelas.
Gue Bersiap untuk pulang, bergegas menuju statsiun kereta Lenteng Agung menjemput KRL tujuan Bogor, yang akan mengantar gue kembali ke peraduan gue yang sebenarnya, Yak! Rumah, tempat nyokap gue menunggu dengan harap-harap cemas kepulangan anaknya ini dari kampus. Tempat dimana saat gue pulang, nyokap selalu menjamu gue dengan teh manis hangat, Tempat dimana saat gue pulang, nyokap selalu menyambut gue dengan antusias 'Wah anak mamah udah kuliah nih yeee'.
Hujan pun turun beringas saat gue memacu langkah menuju Stasiun.
Hemmm gue selalu suka bau tanah kering bercampur aroma hujan yang membasahinya.
Ada Romantisme tersendiri yang hujan tunjukan, entah apa. Mungkin itu datang dari percampuran rasa cemas untuk segera berteduh di Veron stasiun, atau pengharapan agar dapat melihat pelangi seusai hujan turun.
Akhirnya gue tiba di stasiun, membeli secarik karcis KRL Ekonomi tujuan Bogor.
gue menyusuri veron stasiun kereta sembari melihat-lihat bangku kosong untuk sekedar gue duduki sambil menunggu kereta yang belum transit di stasiun ini.
Gue duduk.
Menyeka keringat yang bercapur air hujan di kening gue, merebahkan badan pada tiang-tiang penyangga veron stasiun yang mulai karatan.
Mendengarkan playlist lagu di handphone gue sambil nyanyi-nyanyi sumbang yang tersamarkan oleh bunyi rel kereta ditempa hujan.
Gue seneng saat gak bisa denger suara gue sendiri, saat di bungkam tanpa sengaja, saat itu pula, percikan hujan membawa gue kembali merenung, merenung sendiri dibalik kacamata gue yang berembun. Hujan membawa kembali renungan itu.
Renungan tentang 'Hal apa yang sih yang bisa bikin orang seneng?'
Seperti kata Haruki Murakami dalam bukunya Kafka On The Shore:
“It's like Tolstoy said. Happiness is an allegory, unhappiness a story.”
Dan yang gak gue sadari adalah, antusiasme nyokap yang begitu berlebih melihat anaknya menempa pendidikan di Universitas adalah Hal yang selama ini gue cari, The thing that i always wondering.
Sebegitu excited dan terharunya nyokap ngeliat anaknya pake almamater yang gak semua orang bisa pake.
Dan untuk sementara waktu, inilah kesenangan yang selama ini gue cari-cari.
Jumat, 02 September 2011
Semua tentang hari ini.
Dan jika kita berada di pagi hari jangan pernah menunggu sore datang! Hari ini yang akan & harus kita jalani. Bukan kemarin yang telah pergi dengan segala kebaikan & keburukanya. Bukan pula besok yang belum tentu datang. Hari ini, matahari menyambut pagi, menyapa siang dan meninggalkan malam, inilah hari kita.
Saat untuk kita mungkin tinggal hari ini jadi anggap saja masa hidup kita tinggal hari ini. Coba untuk berfikir Seakan - akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati dihari ini juga. Dengan begitu hidup tak akan terasa mencabik - cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan atau duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidak-pastian dan acapkali menakutkan.
Hari ini, sebaiknya kita curahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Perhatian penuh pada keadaan sekitar, pada kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik pada sesama.
Sekarang, hari dimana kita hidup! sekarang saatnya membagi waktu dengan bijak. Menjadikan setiap menit laksana ribuan tahun dan detik laksana ratusan bulan.
Tanam sebanyak mungkin kebaikan, petik sebanyak mungkin kesuksesan.
Kencangkan sabuk pengamanmu kita melesat menembus alam keabadian. Bersama nikmaati hari ini dengan suka cita! Terima segala kejutan, rezeki, istri, suami, kekasih, tugas, rumah, ilmu, jabatan atau apapun dengan penuh ke-ikhlasan.
Percaya akan diri sendiri, semangat dan tekad yang kuat akan menundukan diri untuk berpegang pada prinsip "Aku hanya akan hidup hari ini" Prinsip ini yang akan menuntun kita menyibukan diri setiap detiknya untuk selalu memperbaiki keadaan.
Big Love
~ Agie ~
Saat untuk kita mungkin tinggal hari ini jadi anggap saja masa hidup kita tinggal hari ini. Coba untuk berfikir Seakan - akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati dihari ini juga. Dengan begitu hidup tak akan terasa mencabik - cabik diantara gumpalan keresahan, kesedihan atau duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidak-pastian dan acapkali menakutkan.
Hari ini, sebaiknya kita curahkan seluruh perhatian, kepedulian dan kerja keras. Perhatian penuh pada keadaan sekitar, pada kesehatan jiwa dan raga, serta perbuatan baik pada sesama.
Sekarang, hari dimana kita hidup! sekarang saatnya membagi waktu dengan bijak. Menjadikan setiap menit laksana ribuan tahun dan detik laksana ratusan bulan.
Tanam sebanyak mungkin kebaikan, petik sebanyak mungkin kesuksesan.
Kencangkan sabuk pengamanmu kita melesat menembus alam keabadian. Bersama nikmaati hari ini dengan suka cita! Terima segala kejutan, rezeki, istri, suami, kekasih, tugas, rumah, ilmu, jabatan atau apapun dengan penuh ke-ikhlasan.
Percaya akan diri sendiri, semangat dan tekad yang kuat akan menundukan diri untuk berpegang pada prinsip "Aku hanya akan hidup hari ini" Prinsip ini yang akan menuntun kita menyibukan diri setiap detiknya untuk selalu memperbaiki keadaan.
Big Love
~ Agie ~
Kamis, 04 Agustus 2011
Di dunia ini, gak ada yang bener-bener instan.
Gue sadar, sadar banget 'There's no something instan in this world'.
Termasuk Mie instan? kenapa? kan namanya Instan. Namanya doang yang 'instan' tapi untuk memakanya, for making it to be a bowl of noodle kita harus membuatnya step by step, mulai dari nyiapin airnya, masaknya, tetek-bengeknya, sampe itu bener-bener jadi mie yang siap di santap. Gak ada yang bener-bener instan.
See? Bahkan untuk membuat mie yang berlabel 'Instan' aja kita masih harus mengolahnya. Kalo pun ada sesuatu yang instan, i guess it will be no longer.
Gue ambil contoh tentang instan itu yang mungkin lo semua udah pada tau.
Ajang pencarian bakat menyanyi misalnya.
Setelah salah satu dari talent ajang itu juara, awalnya mungkin masih banyak tawaran nyanyi off air atau on air tapi dua atau tiga bulan berikutnya nama mereka mulai redup, jarang kedengeran lagi. Kalo pun kedengeran, mentok-mentok mereka nyanyi di acara kawinan atau sunatan masal.
Beda sama penyanyi yang bener-bener merintis karir nyanyi nya dari nol, mereka dan karya-karyanya bakalan tetep dikenang walau udah gak eksis lagi. Alm. Chrisye contohnya.
Berangkat dari pemikiran tentang instan itu tadi, gue mencoba untuk enggak lagi menuruti kehendak yang kalo gue bilang harus, pada saat itu juga secara instan kehendak gue harus terpenuhi.
Setelah lulus SMA, entah kenapa seperti ada sesuatu yang mendoktrin mind-set gue 'Wake up gie! Lo udah lulus sekarang and not wearing your Highschool uniform anymore dan bukan lagi anak sekolahan yang harus menye-menye minta sesuatu sama orang tua lo!.'
Gue diem sejenak.
Harus gue akui, jama gue Sma dulu gue termasuk anak yang manja apalagi sama nyokap. Gue selalu nuntut ini-itu dan lagi-lagi secara instan tuntutan gue harus terpenuhi.
Gue juga termasuk ABG labil jama SMA dulu, masih dalam tahap pencarian jati diri gitu soalnya.
Pendirian gue juga masih Power Steering masih gampang dibelok-belokin, kalo liat video tentang petualangan gitu atau tentang gimana caranya survive di alam bebas kaya ngebangun tenda sendiri, makan tanaman yang berpotensi untuk dikonsumsi, dan sebagainya gue langsung pengen nyasar ke gunung.
dan yang lebih bego kalo abis liat film-film superhero gitu kayak Batman, Superman, gue langsung pengen beli baju Power Ranger. Emang labil, Dobel labil malah tapi itu dulu.
Sekarang, untuk sekedar minta uang jajan sama nyokap rasanya tuh malu banget.
Based about it, sebelum gue masuk kuliah dan belajar di tingkat Universitas. Gue mencoba untuk Learn something new like cari uang sendiri, niatnya sih pengen tanggung jawab buat menggantikan handphone gue yang ilang yang dibeliin orang tua gue. Ya walaupun nyokap-bokap masih sanggup untuk negebeliin yang baru.
Gue cari pengalaman kerja kaya gini supaya kelak gue gak kaget ketika harus melamar kerja lulus kuliah nanti. Toh! gue kuliah kan ujung-ujungnya buat cari duit juga.
Well, Tuhan memudahkan jalan gue untuk tau kalo nyari duit itu gak instan, gak segampang lo ngupil, gak senikmat lo have sex. nyari duit itu SUSAH men!.
After all, akhirnya gue dapet kerja juga lulus SMA. Kerjanya juga enggak yang berat-berat banget kaya gendong Prety asmara. Gue kerja sebagai typist disalah satu toko komputer di daerah Cibinong.
Dan ditempat kerja ini, banyak hal-hal baru yang gue pelajarin seperti 'Jangan sesekali ngetik pake kelingking doang karena itu gak penting' (nenek-nenek goyang ngebor juga tau itu gak penting). Intinya gue belajar tentang segala macam tetek-bengek susahnya kerja ditempat orang sampe-sampe tetek gue bengek beneran dan gue juga belajar mendisiplinkan diri terhadap sebuah pekerjaan kaya gak boleh dateng telat ketempat kerja, gak boleh begini-begitu, aaaaaahhh susah deh pokoknya.
Tapi setelah berusaha keras dan terus belajar, I DID IT MEN!!! I DID IT !!!
Finnaly, gue dapet gaji pertama dan rasanya itu super-duper-menyenangkan. Now i know betapa puasnya membeli sesuatu lewat hasil keringet sendiri. sya la la~
Dan pelajaran yang gue dapet adalah, im not going to be arrogant karena udah bisa cari duit sendiri tapi ini lebih kepada: walau gue belom bisa ngasih apa-apa sama nyokap-bokap, at least gue bisa sedikit mengurangi kebiasaan meminta sama mereka.
Terimakasih tuhan, untuk semua kebetulan-kebetulan yang engkau berikan.
Termasuk Mie instan? kenapa? kan namanya Instan. Namanya doang yang 'instan' tapi untuk memakanya, for making it to be a bowl of noodle kita harus membuatnya step by step, mulai dari nyiapin airnya, masaknya, tetek-bengeknya, sampe itu bener-bener jadi mie yang siap di santap. Gak ada yang bener-bener instan.
See? Bahkan untuk membuat mie yang berlabel 'Instan' aja kita masih harus mengolahnya. Kalo pun ada sesuatu yang instan, i guess it will be no longer.
Gue ambil contoh tentang instan itu yang mungkin lo semua udah pada tau.
Ajang pencarian bakat menyanyi misalnya.
Setelah salah satu dari talent ajang itu juara, awalnya mungkin masih banyak tawaran nyanyi off air atau on air tapi dua atau tiga bulan berikutnya nama mereka mulai redup, jarang kedengeran lagi. Kalo pun kedengeran, mentok-mentok mereka nyanyi di acara kawinan atau sunatan masal.
Beda sama penyanyi yang bener-bener merintis karir nyanyi nya dari nol, mereka dan karya-karyanya bakalan tetep dikenang walau udah gak eksis lagi. Alm. Chrisye contohnya.
Berangkat dari pemikiran tentang instan itu tadi, gue mencoba untuk enggak lagi menuruti kehendak yang kalo gue bilang harus, pada saat itu juga secara instan kehendak gue harus terpenuhi.
Setelah lulus SMA, entah kenapa seperti ada sesuatu yang mendoktrin mind-set gue 'Wake up gie! Lo udah lulus sekarang and not wearing your Highschool uniform anymore dan bukan lagi anak sekolahan yang harus menye-menye minta sesuatu sama orang tua lo!.'
Gue diem sejenak.
Harus gue akui, jama gue Sma dulu gue termasuk anak yang manja apalagi sama nyokap. Gue selalu nuntut ini-itu dan lagi-lagi secara instan tuntutan gue harus terpenuhi.
Gue juga termasuk ABG labil jama SMA dulu, masih dalam tahap pencarian jati diri gitu soalnya.
Pendirian gue juga masih Power Steering masih gampang dibelok-belokin, kalo liat video tentang petualangan gitu atau tentang gimana caranya survive di alam bebas kaya ngebangun tenda sendiri, makan tanaman yang berpotensi untuk dikonsumsi, dan sebagainya gue langsung pengen nyasar ke gunung.
dan yang lebih bego kalo abis liat film-film superhero gitu kayak Batman, Superman, gue langsung pengen beli baju Power Ranger. Emang labil, Dobel labil malah tapi itu dulu.
Sekarang, untuk sekedar minta uang jajan sama nyokap rasanya tuh malu banget.
Based about it, sebelum gue masuk kuliah dan belajar di tingkat Universitas. Gue mencoba untuk Learn something new like cari uang sendiri, niatnya sih pengen tanggung jawab buat menggantikan handphone gue yang ilang yang dibeliin orang tua gue. Ya walaupun nyokap-bokap masih sanggup untuk negebeliin yang baru.
Gue cari pengalaman kerja kaya gini supaya kelak gue gak kaget ketika harus melamar kerja lulus kuliah nanti. Toh! gue kuliah kan ujung-ujungnya buat cari duit juga.
Well, Tuhan memudahkan jalan gue untuk tau kalo nyari duit itu gak instan, gak segampang lo ngupil, gak senikmat lo have sex. nyari duit itu SUSAH men!.
After all, akhirnya gue dapet kerja juga lulus SMA. Kerjanya juga enggak yang berat-berat banget kaya gendong Prety asmara. Gue kerja sebagai typist disalah satu toko komputer di daerah Cibinong.
Dan ditempat kerja ini, banyak hal-hal baru yang gue pelajarin seperti 'Jangan sesekali ngetik pake kelingking doang karena itu gak penting' (nenek-nenek goyang ngebor juga tau itu gak penting). Intinya gue belajar tentang segala macam tetek-bengek susahnya kerja ditempat orang sampe-sampe tetek gue bengek beneran dan gue juga belajar mendisiplinkan diri terhadap sebuah pekerjaan kaya gak boleh dateng telat ketempat kerja, gak boleh begini-begitu, aaaaaahhh susah deh pokoknya.
Tapi setelah berusaha keras dan terus belajar, I DID IT MEN!!! I DID IT !!!
Finnaly, gue dapet gaji pertama dan rasanya itu super-duper-menyenangkan. Now i know betapa puasnya membeli sesuatu lewat hasil keringet sendiri. sya la la~
Dan pelajaran yang gue dapet adalah, im not going to be arrogant karena udah bisa cari duit sendiri tapi ini lebih kepada: walau gue belom bisa ngasih apa-apa sama nyokap-bokap, at least gue bisa sedikit mengurangi kebiasaan meminta sama mereka.
Terimakasih tuhan, untuk semua kebetulan-kebetulan yang engkau berikan.
Rabu, 29 Juni 2011
Life goes on even though we want it to stop.
Semuanya keliatan begitu normal.
Hari itu gue masih kelas dua Sma di SMAN 3 Cibinong, Gue duduk dipelataran taman sekolah.
Bel istirahat baru aja bunyi, Gue ngeliatin keadaan di sekeliling gue, semuanya keliatan normal-normal aja. Playlist handphone gue lagi mainin Take me with you-nya secondhand serenade.
Didepan gue ada anak Sma yang lagi pacaran, di luar gerbang ada tukang Ojek yang lagi nungguin penumpang, gak jauh dari tukang ojek ada tukang gorengan yang lagi dagang. Semuanya keliatan normal-normal aja.
Padahal, siapa tau orang yang lagi pacaran tadi baru aja abis berantem atau tukang ojek itu lagi ngejer setoran buat ngebiayain operasi anaknya yang abis nelen oli motor atau tukang gorengan tadi baru aja nelen kompor.
Siapa yang tahu?.
Dan buat mereka gue pun pasti keliatan normal-normal aja, yep! Gundala putra geledek berkacamata. Padahal mereka gak tahu kalo dibalik kaca mata ini, mata gue lagi berkaca-kaca, dibalik tubuh kurus ini hati gue baru aja remuk, hancur minah musnah, pecah tak bersisa. Perjuangan selama satu tahun di kelas satu sampe akhirnya berani buat nembak satu cewek di kelas dua, Sukses dengan terucapnya kata "DI Tolak". Hebat.
Dan ya!, apa peduli mereka terhadap hati gue yang remuk ini?. Anak Sma itu akan terus asik pacaran, tukang ojek itu akan terus beraktivitas dengan motornya, tukang gorengan ituakan terus nelen kompor eh akan terus jualan gorengan. Seberat dan se-complicated apapun hidup gue orang lain akan terus jalan dengan hidupnya masing-masing. That how life's work, life will go on.
Playlist di handphone gue mainin But Honestly-nya Foo Fighters,
dan lagu ini membawa ingatan gue kembali ke satu tahun yang lalu dimana gue masih berani ngobrol sama dia, masih bisa ngeliatin tingkah nya dengan senyum, sebelum hati ini remuk redam karena di tolak dan gue bisa sampe segininya karena dia beda banget, Beda.
Dulu, Kita sering mencari sesuatu yang bisa kita ketawain bareng-bareng, entah itu kebiasaan konyol gue yang sering ngupil pake tusuk gigi atau untuk sekedar sharing hal-hal kecil sepulang sekolah. Kita terus cekikikan sampe-sampe kita gak sadar kalo sekolahan udah sepi dan kita sukses di usir satpam.
Ditengah suasana yang mendayu ini Foo Fighters terus berkumandang di telinga gue
Don't take what I don't need
(Give me back my peace of mind)
Don't say what I don't need
(Give my back my precious time)
No way you'll silence me
You'll see
Dia yang bisa buat gue nyengir, dia juga yang bisa buat gue begitu rapuh.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya gue naik ke kelas tiga dan lulus, selama di kelas tiga gue mencoba untuk ngelupain semuanya tentang dia. entah itu dengan gue main sama temen-temen gue, cari cewek lain atau apalah gue lakuin, Gue janji untuk lupain semuanya.
Dan mulai dari nol lagi buat nyusun kepingan puzzle hati gue yang remuk
walau berat tapi gue akan terus coba, coba dan coba buat ngelupain semuanya.
Dan gak kerasa waktu cepet banget berlalu. Sekarang, gue balik lagi ke sekolah gue di SMAN 3 Cibinong untuk cap jempol kaki eh cap tiga jari sebagai tanda kalo gue udah resmi jadi alumni, Gue lulus men dan dia? yup! dia juga lulus. Playlist di handphone sekarang muterin Fell in love without you-nya motion city soundtrack saat gue lagi nunggu antrian buat cap tiga jari, gue juga ngeliat dia yang lagi sama-sama ngantri buat cap tiga jari.
Last night I fell in love without you.
I waved goodbye to that heart of mine
Beating solo on your lawn
Pada awalnya emang agak sulit buat ngeluapain, tapi setelah gue coba it's work dan gue berhasil ngelupain dia.
After i fomally become alumni, gue berjalan mantap keluar gerbang,
sesampainya di luar gue menoleh ke arah sekolah.
Sekarang gue ngerasa semuanya udah beda, semuanya udah kembali normal. Gue udah bisa senyum lagi, Puzzle itu udah tersusun rapih.
Dan dengan Tinta yang masih nempel di jari-jari, dengan berakhirnya lagu ini,
Gue udah bisa ngelupain Lo.
Hari itu gue masih kelas dua Sma di SMAN 3 Cibinong, Gue duduk dipelataran taman sekolah.
Bel istirahat baru aja bunyi, Gue ngeliatin keadaan di sekeliling gue, semuanya keliatan normal-normal aja. Playlist handphone gue lagi mainin Take me with you-nya secondhand serenade.
Didepan gue ada anak Sma yang lagi pacaran, di luar gerbang ada tukang Ojek yang lagi nungguin penumpang, gak jauh dari tukang ojek ada tukang gorengan yang lagi dagang. Semuanya keliatan normal-normal aja.
Padahal, siapa tau orang yang lagi pacaran tadi baru aja abis berantem atau tukang ojek itu lagi ngejer setoran buat ngebiayain operasi anaknya yang abis nelen oli motor atau tukang gorengan tadi baru aja nelen kompor.
Siapa yang tahu?.
Dan buat mereka gue pun pasti keliatan normal-normal aja, yep! Gundala putra geledek berkacamata. Padahal mereka gak tahu kalo dibalik kaca mata ini, mata gue lagi berkaca-kaca, dibalik tubuh kurus ini hati gue baru aja remuk, hancur minah musnah, pecah tak bersisa. Perjuangan selama satu tahun di kelas satu sampe akhirnya berani buat nembak satu cewek di kelas dua, Sukses dengan terucapnya kata "DI Tolak". Hebat.
Dan ya!, apa peduli mereka terhadap hati gue yang remuk ini?. Anak Sma itu akan terus asik pacaran, tukang ojek itu akan terus beraktivitas dengan motornya, tukang gorengan itu
Playlist di handphone gue mainin But Honestly-nya Foo Fighters,
dan lagu ini membawa ingatan gue kembali ke satu tahun yang lalu dimana gue masih berani ngobrol sama dia, masih bisa ngeliatin tingkah nya dengan senyum, sebelum hati ini remuk redam karena di tolak dan gue bisa sampe segininya karena dia beda banget, Beda.
Dulu, Kita sering mencari sesuatu yang bisa kita ketawain bareng-bareng, entah itu kebiasaan konyol gue yang sering ngupil pake tusuk gigi atau untuk sekedar sharing hal-hal kecil sepulang sekolah. Kita terus cekikikan sampe-sampe kita gak sadar kalo sekolahan udah sepi dan kita sukses di usir satpam.
Ditengah suasana yang mendayu ini Foo Fighters terus berkumandang di telinga gue
Don't take what I don't need
(Give me back my peace of mind)
Don't say what I don't need
(Give my back my precious time)
No way you'll silence me
You'll see
Dia yang bisa buat gue nyengir, dia juga yang bisa buat gue begitu rapuh.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya gue naik ke kelas tiga dan lulus, selama di kelas tiga gue mencoba untuk ngelupain semuanya tentang dia. entah itu dengan gue main sama temen-temen gue, cari cewek lain atau apalah gue lakuin, Gue janji untuk lupain semuanya.
Dan mulai dari nol lagi buat nyusun kepingan puzzle hati gue yang remuk
walau berat tapi gue akan terus coba, coba dan coba buat ngelupain semuanya.
Dan gak kerasa waktu cepet banget berlalu. Sekarang, gue balik lagi ke sekolah gue di SMAN 3 Cibinong untuk cap jempol kaki eh cap tiga jari sebagai tanda kalo gue udah resmi jadi alumni, Gue lulus men dan dia? yup! dia juga lulus. Playlist di handphone sekarang muterin Fell in love without you-nya motion city soundtrack saat gue lagi nunggu antrian buat cap tiga jari, gue juga ngeliat dia yang lagi sama-sama ngantri buat cap tiga jari.
Last night I fell in love without you.
I waved goodbye to that heart of mine
Beating solo on your lawn
Pada awalnya emang agak sulit buat ngeluapain, tapi setelah gue coba it's work dan gue berhasil ngelupain dia.
After i fomally become alumni, gue berjalan mantap keluar gerbang,
sesampainya di luar gue menoleh ke arah sekolah.
Sekarang gue ngerasa semuanya udah beda, semuanya udah kembali normal. Gue udah bisa senyum lagi, Puzzle itu udah tersusun rapih.
Dan dengan Tinta yang masih nempel di jari-jari, dengan berakhirnya lagu ini,
Gue udah bisa ngelupain Lo.
Kamis, 16 Juni 2011
i'am a newbie for these kind of love things.
People says.... kalau mau nulis sesuatu
tulislah dengan sejujur mungkin.
well, kalo boleh jujur gue lagi jatuh cinta nih!
jadi yup! gue akan menulis soal itu.
here is it..........'apa yang mau di tulis?' pertanyaan inilah yang sering muncul di benak gue, ketika membahas soal cinta.
Guys! mesti gue akui hal paling susah untuk ditulis adalah cinta. kenapa? it's just because sangat, dobel sangat, sulit menulis soal ini without looking menye-menye, and downright termehek-mehek. Gue gak mau tulisan tentang cinta ini terlihat seperti surat cinta mbak-mbak pabrik dan tukang ojek tetangga gue: "kalau kamu bunga, aku tangkai nya." Najis! atau, "kalau kamu kebun bunga aku tukangnya........Tukang kebon." Najis! Najis!
Buat Gue, you've got me crazy more than a gardener.
More than explanation tentang tukang kebon.
but if you like to hear, the explanation is like: Loving you is like Indomie Telor tanpa bumbu kepuasan. Semua komposisi yang Lo tawarkan: your weirdness, your packaging, all the taste of you, seperti apa yang di tawarin dalam kemasan yang terbungkus rapih itu, seasoning powder yang menggoda and soft-boiled egg yang ditata rapih pada satu bowl dan dipercantik dengan hiasan tomat serta irisan daun bawang. Gue masak dan gue konsumsi, tapi gue masih aja gak puas. Gue masak dan konsumsi lagi tapi tetep gak puas dan gak akan pernah puas. Apa semua ini salah gue yang selalu menagih dan gak pernah puas akan Lo atau Lo yang selalu menawarkan cita rasa yang gak kunjung habis enaknya?. Atau kita berdua? i only can tasted it. I.NEVER.SATISFIED.FOR.SOMETHING.JUST.LIKE.YOU
See? we can make another one cool explanation about a latter of love. and i guess, it will be more sweeter dari pada nulis puisi-puisi tolol (you know lah, yang kaya "jangan pernah tinggalkan aku" Najis! Najis! Najis! pake cuih).
I'm a newbie for this thing, im just an idiot kid who love comedy and comedian (Raditya Dika, Sule, jim carrey, Eddie Murphy,Mitch Fatel etc), that's why i called my self as a newbie for these kind of love things.
well, im gonna make this se-simple mungkin
the simple form of what i feel is: "I Love You"
Big Love
Agie afrizal
tulislah dengan sejujur mungkin.
well, kalo boleh jujur gue lagi jatuh cinta nih!
jadi yup! gue akan menulis soal itu.
here is it..........'apa yang mau di tulis?' pertanyaan inilah yang sering muncul di benak gue, ketika membahas soal cinta.
Guys! mesti gue akui hal paling susah untuk ditulis adalah cinta. kenapa? it's just because sangat, dobel sangat, sulit menulis soal ini without looking menye-menye, and downright termehek-mehek. Gue gak mau tulisan tentang cinta ini terlihat seperti surat cinta mbak-mbak pabrik dan tukang ojek tetangga gue: "kalau kamu bunga, aku tangkai nya." Najis! atau, "kalau kamu kebun bunga aku tukangnya........Tukang kebon." Najis! Najis!
Buat Gue, you've got me crazy more than a gardener.
More than explanation tentang tukang kebon.
but if you like to hear, the explanation is like: Loving you is like Indomie Telor tanpa bumbu kepuasan. Semua komposisi yang Lo tawarkan: your weirdness, your packaging, all the taste of you, seperti apa yang di tawarin dalam kemasan yang terbungkus rapih itu, seasoning powder yang menggoda and soft-boiled egg yang ditata rapih pada satu bowl dan dipercantik dengan hiasan tomat serta irisan daun bawang. Gue masak dan gue konsumsi, tapi gue masih aja gak puas. Gue masak dan konsumsi lagi tapi tetep gak puas dan gak akan pernah puas. Apa semua ini salah gue yang selalu menagih dan gak pernah puas akan Lo atau Lo yang selalu menawarkan cita rasa yang gak kunjung habis enaknya?. Atau kita berdua? i only can tasted it. I.NEVER.SATISFIED.FOR.SOMETHING.JUST.LIKE.YOU
See? we can make another one cool explanation about a latter of love. and i guess, it will be more sweeter dari pada nulis puisi-puisi tolol (you know lah, yang kaya "jangan pernah tinggalkan aku" Najis! Najis! Najis! pake cuih).
I'm a newbie for this thing, im just an idiot kid who love comedy and comedian (Raditya Dika, Sule, jim carrey, Eddie Murphy,Mitch Fatel etc), that's why i called my self as a newbie for these kind of love things.
well, im gonna make this se-simple mungkin
the simple form of what i feel is: "I Love You"
Big Love
Agie afrizal
Langganan:
Postingan (Atom)