Sabtu, 14 November 2015

Aku TIdak Bermaksud Memarahimu

Aku tidak bermaksud memarahimu. Aku pernah begitu takut melihat alis mu meninggi dan sorot mata mu berapi-api, aku tak ingin melihat mata itu seolah kamu mengisyaratkan aku tak pantas ada di depan mu karena telah memarahi mu. Aku beri tahu diriku sendiri bahwa bukan maksudku memarahimu, aku sudah kehilangan kamu yang saat itu menyayangiku.

Aku tidak bermaksud memarahimu.
Aku tidak ingin kamu larut dalam benci akibat prasangka buruk yang terus datang silih berganti. Meniadakan kasih sayang yang selama ini terjaga dengan baik, atau mengasingkan sosok ku seperti tak pernah kamu kenal sebelumnya. Sekali lagi,aku kehilangan kamu yang saat itu menyayangiku.

Aku tidak bermaksud memarahimu.
Tapi suatu waktu, aku bisa saja salah. Melakukan hal bodoh yang akhirnya membuat kamu badmood dan kesal. Menjadi lelaki paling mengesalkan yang membuat kamu ingin gumoh. Sampai pada saatnya, fase itu datang lagi, fase dimana kamu akhirnya memutuskan untuk benar-benar benci. Aku kehilangan aku yang saat itu terlanjur berjanji.

Aku tidak bermaksud memarahimu.
Aku terus berusaha membayangkan kamu untuk tetap lucu dan baik - baik saja. Lalu siapa yang sangka, aku yang terlajur berjanji ini tak melulu mampu memenuhi ucapanya sendiri. Apa ada orang yang menyesal selain aku? Aku rasa tidak, sebab aku gagal untuk mencoba menjadi orang yang menyenangkan dan mengimbangimu.

Tapi, percayalah. Pada tiap-tiap keterbatasanku, aku tidak bermaksud memarahimu.

Bogor, Nov 2015
Agi.

And i could die to find a simple kind of love you can't deny

"Hati ini luas, kamu bebas tinggal dimana pun di dalam sini dan bisa aku pastikan, kamu tidak harus berbagi dengan siapa pun."

Ada satu bintang paling terang di ujung  langit sana, ketika tak ada lagi jarak untuk memandang. -- aku lupa nama bintangnya. Supir kapal sempat menyebutkannya tapi bodohnya aku luput mencatat, setelah ini mungkin aku akan browsing, "Sang pemandu jalan pulang". Peduli apa soal cuaca? Tak masalah segelap apa malam, apalagi hanya semilir angin berhembus..
Bintang itu akan selalu terang di singgasana nya, seolah menegurku dengan segala keteduhan dan keunikannya "kemarilah, jangan cemas, aku bersamamu, ikutilah cahayaku, niscaya akan kamu temui jalan pulang".

Aku disihir cahayanya, seperti kemudi kapal yang patuh pada arah putarannya, dan nelayan yang tersesat ini meng-iyakan semua komandonya, mengikuti kemana cahaya itu pergi agar dapat pulang tanpa takut ada ombak besar yang siap menenggelamkan.

Dalam cinta, aku bukanlah nelayan yang paham kapan angin baik datang untuk melaut. Hanya musafir yang sering kali kebingungan dan hilang arah. Tapi kini aku punya bintang ku sendiri, sinarnya terang tapi tidak menyilaukan. Bersahaja dengan segala keluguan dan ketabahannya.

Kini, apa masih perlu aku mencari nya lewat internet untuk sekedar mengetahui nama bintang itu? Ketika aku sudah teramat kenal Dan paham, bahwa sebenarnya bintang yang selalu jadi arah tujuan ku pulang adalah kamu.



Bogor, 14 November 2015
Agi

Rabu, 22 Oktober 2014

Senja Kala itu...



Senja kala itu, ketika matahari pergi terlalu dini
aku datang menemui mu
menghampiri dinginya kabut tebal mu
memandang ruang hampa dari atas mu

biarlah aku merendah pada puncakmu, biarlah..
biarlah aku kalah akan jinggamu
yang berubah senja pada semburat merah muda
diujung langit sana. biarlah... tak mengapa

kita berdua, disana, bicara tanpa kata
kau meng-iya-kan semuanya
seakan kau mengerti
apa yang aku mau

kita berdiskusi, disana, tentang suatu sore yang indah
tentang sebuah tujuan yang sudah kita tau
kemana arahnya.

senyumku sujud di bumi mu
pada suatu sore yang baru
di Gede - Pangrango
senja kala itu.





Jumat, 02 Agustus 2013

another two year ago..

Entah puisi atau apaan, gue gak ngerti...
Pokoknya ini sebuah tulisan yang gue temuin di pojokan lemari
dibawah LKS pendidikan kewarga-negaraan yang gue tulis
kira-kira dua tahun lalu...

ajari aku bernyanyi 
meniru riuh suara angin merendah, 
merebah punggung di sebuah bale, 
merekang lelah sepulangnya aku dari sekolah.

ajari aku bernyanyi
merubah kamar mandi menjadi concert hall
menyuarakan mu selantang mungkin
tak ada yang mendengar

ajari aku bernyanyi
biarkan sang sabun, sikat gigi, dan teman-temanya
menjadi saksi, atas nyanyianku sore ini
sepulangnya aku dari sekolah.

Bogor, 27 desember 2010

Senin, 18 Maret 2013

Suatu pagi, dikota hujan.

Selamat pagi...

Win, dingin berderai sejak semalem. kaya gak ada bosennya mencipta basah dan lembab huuu. apakabar Bandung mu? gue harap elu hangat disana,  gak kaya gue disini yg meringkuk dipojokan kamar deket sama colokan, berselimut rindu yang menderu-deru. *tsaaaaaaaaaaahhh

Gue rindu lengkung 8 cm bibir lu itu.. maaf soal gue yang selalu buat elu menunggu, gue juga udah memaafkan kesamaan tentang elu yg sama-sama suka membuat gue menunggu :)). actually, you don't need to read the first line at this letter, elu gak akan pernah kehilangan pesan yg ingin gue sampaikan. hahahah maaf yak kalo gue suka menggoda kesabaran elu, maaf kalo gue selalu merubah senyum menjadi cemberut.

Gue lagi membayangkan alis lu yg meninggi satu ketika baca tulisan ini, lalu tangan lu menggaruk kepala yang padahal enggak gatel. pikiran lu terbang jauh sambil bertanya "apa pula maksudnya nih?". Biarin... bingung yang lu rasakan belum lebih hebat dibanding rindunya gue yang udah berangkat duluan ke Bandung sana.

Gue rindu menikmati hujan berdua, sore itu. melawan dingin yang semesta tawarin dengan dua mangkuk indomie plus satu piring nasi. berkali-kali elu timpali dengan candaan elu yang khas. hati gue bersorak-sorai dalam gempita paling mesra, apa elu merindukanya juga? bueheheheh

Dan saat ini gue mau menyibukan diri buat belajar how to spell L.O.V.E dengan sebenar-benarnya pada satu nama, nama mu.

Bogor, 19 maret 2013

Big Love,
Agie.




Minggu, 17 Maret 2013

Kepada kamu, dengan senang hati.

Kepada kamu,
Dengan senang hati.

Aku senang mencintaimu, senang bertemu lagi dengan kamu, senyum-senyum gemes. dan terkejut, selalu terkejut dengan 'apa yang baru dari kamu?'. aku senang deg-deg-an cuma untuk nunggu kamu online. and when your name pop up on my chat, aku menaruh laptop diatas bantal, tengkurep, nyengir, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu, agar kamu tertawa, disana.


Aku senang ketika nanamu nongol di inbox handphone dan senang pula ketika harus memakan waktu lama untuk sekedar membalasnya, menghapusnya, menyusun kata sedemikian rupa. aku senang mencintaimu, semua detail yang aku ucapkan, tuliskan, kirimkan, ke kamu menjadi sangat penting, seolah-olah mesti tanpa cacat. atau aku bisa saja kehilangan kamu.


Aku senang ketika gak bisa menerjemahkan semua kode kamu, apakah pertanyaan dan pernyataan kamu itu sekedar pancingan atau sesuatu yang mungkin saja bisa aku salah artikan? aku senang ketika harus memikirkan kamu dulu sebelum tidur, dan kembali deg-deg-an, aku pasrah. aku senang ketika harus begini terus semaleman.


Aku senang ketika tangan kamu menggenggam tanganku, saat dimana kamu mencoba melihat sesuatu di handphone yang sedang aku pegang. Oh, aku senang ketika tangan kita saling menggenggam, aku berhenti bernafas sejenak, merasa canggung, salah tingkah, pengen lari yang jauh. Aku senang ketika secara desperate, aku memaksa mencari-cari apa kesukaanmu, senang ketika aku tahu bahwa kamu bisa aja sempurna, bisa aja tanpa cela, dan aku benar-benar jatuh hati kepadamu.


Aku senang mencintaimu. Demi Tuhan, aku senang. karena, didalam deg-deg-an ini, dibalik semua rasa kangen, terkejut, canggung, gemes, harap-harap cemas yang bergumul didalam dan kemudian meletup pelan-pelan...

Aku mencintaimu,
Dengan senang hati.



Rabu, 23 Januari 2013

Hujan

Dan sesuatu yang gue tulis sore ini di McD Bogor, sesaat setelah hujan mengguyur diluar...


  “Singing in the rain. I'm singing in the rain. And it's such a fucking glorious feeling.” 


huaaaaaaahhh musim hujan, gue selalu suka musim hujan. Ada romantisme tersendiri yang hujan munculkan, entah apa. Mungkin itu datang dari percampuran rasa, yap! rasa cemas mencari tempat untuk berteduh atau rasa berharap bisa melihat pelangi ketika hujan berhenti. Atau melamun sendirian dibalik kaca mata yg berair. Hujan mencampur semua rasa itu... Cemas, Harap dan lamunan.

Gue suka hujan. suka bawa motor dengan jas hujan lalu melihat jalanan lewat kaca helm yang dipenuhi titik-titik air yang kemudian gue hapus pake tangan dan tentu aja percuma, cuma untuk melihatnya basah kembali. Mendengarkan lagu dengan earphone, nyanyi-nyanyi sumbang yang disamarkan bunyi air, selalu suka ketika gak bisa denger suara sendiri, ketika dibungkam tanpa sengaja.

Gue suka bau air yang bercampur tanah, bau lumpur samar-samar itu. Gue suka menciumnya dengan ganas, menghirup dalam-dalam dan menahan nya sejenak supaya tidak diganggu bau yang lain. Gue inget, waktu masih kecil dulu, gue suka nyanyi-nyanyi dibawah hujan. Sing along bareng temen-temen lalu mengecap rasa amis yang mampir ke bibir. Dan ketika malam harinya meriang? Gue gak peduli.

Tapi gue selalu takut puting beliung, sebuah angin yang punya kekuatan menghancurkan itu, kemampuanya menghancurkan apa yg udah ada. menyapu bersih apa yang pernah gue bangun, menelan semuanya bulat-bulat dengan satu kali kedipan mata. Dia bisa membuat semua orang ketakutan, semua orang keresahan, dia mampu membuat semuanya jadi tidak terlihat.

Dan ketika angin semacam itu datang,
yang kita perlukan hanya keberanian untuk bernyanyi dibawah hujan.

Hey, kamu disana. Dekap pinggulku.
When the rain are fallin', kita nyanyi sama-sama, ya?